Minggu, 03 Juli 2016

Istimewa atau Tidak, Itu Urusan Hati




Sudah sepuluh jam terlewati sejak adzan subuh pagi tadi dikumandangkan.  Terlalu cepat berlalu. Tidak seperti beberapa tahun yang lalu, yang setiap jamnya begitu lambat merayap. Terbayang pengalaman saat dulu mengikuti shalat tarawih di masjid dekat rumah. Saat itu, sepuluh tahun lalu, setiap ayat yang dibacakan sang Imam membuatku hanyut hingga mengantuk. Ya, itu dulu. Beberapa tahun yang lalu. Fenomena ini, tentu saja hampir semua orang sudah menduga hal tersebut ada hubungannya dengan akhir jaman yang semakin dekat.  Apakah aku memikirkan ini? Tentu saja.  Tapi ada hal lain yang lebih penting dari ‘sekedar’ memikirkan akhir jaman.  Ini tentang hati. Ssstt... tentang hati.
***
Sesi yang kelima ini memang cukup menarik dibanding empat sesi sebelumnya.  Semua peserta tampak antusias mengikuti materi yang diberikan pakar kesehatan tersebut.  Ada yang mengangguk-angguk tanda setuju, ada yang tersenyum penuh arti, ada yang tetap berusaha membuka mata walau kantuk menyerang, ada yang tampak lesu namun tetap memerhatikan materi.  Bukankah itu wajar? Sekarang pukul 13.15 yang pada umumnya tubuh membutuhkan waktu untuk rileks sejenak terutama di Bulan Ramadhan.  Semua orang beraktivitas dan di saat yang sama tubuh harus menyeimbangkan asupan sel tubuh yang disuplai di pagi buta, lalu baru akan disuplai lagi saat petang.  Logika yang biasa dipikirkan adalah wajar bila tubuh lelah, lunglai, dan lemas.  Semua orang akan memaklumi itu.  Tetapi kata logika tidak bisa berhenti di situ.  Tidak. 

lalu apa hubungannya dengan hati? 
Bersambung...