Kamis, 15 November 2018

Sumpah Pemuda atau Pemuda di Sumpah? Bagian 2

bismillahirrahmanirrahiim
28 Oktober 2018
Pernahkah tiba-tiba tersenyumsambil mengingatbersyukurdan tak henti-hentinya mengucapkan kalimat tahmid ketika mengingat bahwa kedua  kali menulis judul  yang samausiamu bertambah 10 tahun? Ya aku merasakannya.  28 Oktober ini….
Duluaku sangat bersemangat menulis ‘curhat’ tentang Sumpah Pemudamengeluarkan semua uneg-uneg yang terpendam dan entah bagaimana caranya hanya bisa disampaikan lewat tulisan. Waktu itusangat menyenangkan bisa menyampaikan pendapat walaupun aku tahu kemungkinan kecil tidak ada yang membaca kecuali diriku sendiri. Tapi baiklah. Ini adalah sebuah tempat dimana dirimu bisa menjadi seseorangyang sesungguhnya di luar dunia yang ‘real’ kamu hadapibegitu juga denganku.
Hari iniaku ingin sedikit bertanya pada duniakhususnya Indonesia. Apakah esensi pemuda bagi Indonesia? Bagikupemuda Indonesia adalah harta pusaka Indonesia. Mereka yang sedari bayi-hayat-dikandung-badanbertanah air Indonesia. Sejak tumbuh kembangnya diasuh oleh negeri tercinta Indonesia. Selama usia balita mengikuti kegiatan Posyandu Balita yang diadakan oleh puskesmas setempat. Yang sejak usia prasekolah sudah mengikuti PAUD atau yang setaranyaYang memasuki masa seragam putih-merahputih-biruputih-abumengikuti kurikulum pendidikan yang dirumuskan petinggi-petinggi pendidikan Indonesia. Jadilahpemuda Indonesia. Ah..aku lupaSejatinya pemuda bukanlah hanya sampai di situ. Sampai badan dikandung tanahkitalah pemuda itu. Tidak ada batasan siapakah pemuda itu. Siapapunasal orang Indonesia, dialahpemuda Indonesia, terlepas usai telah memakan dirinya.
Yang membuatku sedih adalahkita mengaku berbahasa satu-Bahasa Indonesia, berbangsa satu-Bangsa Indonesia, bertanah air satu-Tanah Air Indonesia, tapi perilaku kita sama-sama menghancurkanpernyataan itu.  Banyak sekali kehancuran-kehancuran di depan mata untuk bangsa iniPertikaianfitnahpolitik yang culas (walaupun aku sendiri tidak tahupolitik yang tidak culas adakah?), dan masih banyakmasalah lain. Yang paling menyedihkan adalah praktik korupsi. Bukan. Bukan hanya korupsi melainkan juga kolusi1 dan nepotisme2.  Tidak perlu disebutkan satu-satu contoh nyata setiap harinya.  Mulai dari masasekolah, di masyarakatdan tentu saja dunia kerja.  Aku sering berpikirbagaimana mungkin lembaga pemerintah yang bertugas untuk memberantas korupsi akan sanggup untuk menangani ini semuaBayangkan sajabahkan anak sekolah sudah belajar untuk mengambil yang bukan miliknya (bacamencontek). Ini adalah salah satu contoh yang paling sering kita tahu. Logikanyaketika seseorang belajar sudah sepantasnya dia bisamenjawab soal. Dan begitu juga sebaliknya. Yang terjadi adalah, orang-orang yang malas belajar seenaknya mencontek temannya yang belajar.
Aku bukan orang yang pintar bin cerdas, yang bisa mengusai materi-materi dan nilainya selalu bagus ketika di bangku sekolah apalagi di bangku kuliah.(seriusaku bukan orang pintartapi beruntungTapiapakah sama saja perjuangan orang yang sudah belajar vs orang yang malasBukankah yang mencontek mengambil sesuatu yang bukan haknya? Parahnya lagikadang yang kita temui di lapangan adalah kata-kata “Itu mah sudah biasa”. Aku jadi berpikirapakah mencuri juga biasa? Kembali ke pertanyaan awalapakah esensi pemuda bagi Indonesia? Apa tidak seharusnya pemuda yang di sumpah?
Bukankah sesuatu yang besar itu diawali dari yang kecil?
Catatan kaki:
1.                              Menurut KBBI(Kamus Besar Bahasa Indonesia) kolusi adalah kerja sama rahasia untuk maksud  tidak terpujipersekongkolan.
2.                             Menurut KBBI(Kamus Besar Bahasa Indonesia) nepotisme adalah 1. perilaku yang memperlihatkan kesukaan yang berlebihan kepada kerabat dekat.2.kecenderungan untuk mengutamakan(menguntungkansanak saudara sendiriterutama dalam jabatanpangkat di lingkungan pemerintah.

Nasihat Seorang Sahabat

Bismillahirrahmanirrahiim
21 Oktober 2018
Kataorang, masalah akan membuat seseorang menjadi lebih dewasa. Kalimat itu selalu terngiang di pikiranku dari jaman masih menggunakan seragam putih merah, sampai sudah tidak punya tempat formal untuk belajar (baca:lulus).
Kemarinseharusnya aku bisa ikut menghadiri pemakaman ibunda dari seorang sahabat yang sama-sama berjuang dalam kerasnya kehidupan. Sayangaku belum kembali dari Klatensehingga aku harus menunda nya sampai hari ini.
Aku melihat ketabahan dari diri temankusama seperti ketabahan yang pernah kulihat pada seorang  teman masa SD. Mengapa mereka bisa setabah ituBukankah kemungkinan besar mereka akan menangisTapilihatlah mereka.  Tidak ada yang menangis.  Walaupun aku yakin hatinya pasti terisi-iris seperti disayat sembilu.
Nasihat yang aku masih ingat dari sahabatku itu adalah“ Amketika kamu ketakukan karena mengira bahwa kamu akan berat melakukan sesuatupercayalah orang lain pun juga merasakan hal yang samaTapi, yang membedakan masing-masing orang adalah bagaimana cara mereka menanggapinya. Beda menanggapinyabeda juga menghadapinyaKamu tidak perlu takut.”
Nasihat itu bukanlah penutup dari cerita kali ini.  Ada banyak bebankesedihanterlihat di matanya.  Tapiaku tidak bisa menemukan keraguan dalam sikapnya.  Begitu pula dari cara bicaranya.  Kesimpulannyaaku harus belajar mengendalikan diriketakukandan mencontoh diasahabatku yang sangat strong ini. 
Woman who always stands by herselfitu julukanyang pantas untuk dia.
diambil dari Buku 365 Mindset Berbisnis dan Berwirausaha oleh Luthfi Subagio
pesannya padaku pada lain kesempatan, ''Kalau bisa memperbaiki kekurangan yang kamu miliki silakan. Bila tidak mampu, cukup menjadi diri sendiri dan terus melakukan yang baik-baik serta yang terbaik."
Sudahkah anda mendukung sahabat anda untuk jadi lebih baik?:) 

Selasa, 13 November 2018

Trip to Klaten

Bismillahirrahmanirrahiim
20 Oktober 2018.
Gedung Sunan Pandanaran Klaten
Setelah berjuang selama 4 hari (kurang lebih), akhirnya dipilihkan Allah yang terbaik untuk internship di suatu RS. Sebenarnya kalau boleh dideskripsikan, perasaan hari ini sangatlah bermacam-macam. Senang, sedih, lega, cemas, serta tertekan jadi satu.  Campur aduk.  Tetapi, mari kondangan sejenak. Bukan untuk melupakan, hanya menjeda perasaan yang campur aduk itu, selama sekitar 1 jam di sebuah gedung, daerah Klaten.  Dan perjalananpun dimulai.
Sebagaimana selama 4 hari ini, bangun pagi sudah tidak bisa ditawar lagi. Wajib. Walaupun hari ini lebih terlambat dari sebelumnya.  Mulai bersiap-siap dan berangkat dari rumah 7.20 an–telat memang.  Sesampainya di Masjid Kauman Yogyakarta, untuk menjemput teman yang akan menemani perjalanan ke Klaten, aku masih menunggu.  Lalu, munculah temanku dari arah utara.  Kami pun sepakat untuk memeriksa masih ada tiket prameks atau tidak untuk keberangkatan pukul 09.05. Walaupun berdasarkan saran temanku yang sudah sering naik prameks untuk kuliah, beli tiket prameks yang Go Show H-3 JAM sudah bisa, dan sekitar 1 jam sebelum berangkat biasanya tiket pemberangkatan jam terdekat sudah habis.  Tapi karena alasan tempat yang sulit untuk parkir, kami memutuskan untuk segera ke Terminal Giwangan.
Singkatnya, kami sudah ada di bus jurusan Yogya-Klaten dan berencana turun di Terminal Ir. Soekarno Klaten.  Alhamdulillah, kami sampai di terminal dengan selamat, dan disambut dengan sepoi angin Klaten. Bangunan terminal yang masih terkesan baru juga sangaat enak dipandang.  Setelah beberapa menit membereskan diri dan jalan-jalan sambil melihat terminal, kami memutuskan untuk segera ke gedung resepsi.   

Sampai di Gedung Sunan Pandanaran, kami langsung ke meja buku tamu, eh ketemu adek kelas.  Lalu, kami belum sempat ngobrol dan menuju ke penganten baru untuk nyelamatin, barakallahu laka mb Wulan dan Mas Dzikri.
Alhamdulillahnya adalaah, aku dan temanku diajak foto! MasyaAllah, aku terharuu.  Jarang ada yang ngajakin aku foto. Biasanya aku yang minta foto. Setelah itu, kami makan sepuasnya, hehe.. maklum habis naik motor-bis-grab. Kami benar-benar Cuma 1 jam di acara itu, atau lebih tepatnya hanya 50 menitan.  Setelah itu menuju terminal lagi ;0

Tugu Klaten Bersinar tampak samping





Alhamdulillah perjalanan ke Jogja lancar, walaupun bus yang terakhir sangar, ngebut banget bikin gabisa tidur –‘.
Cuma mau sharing jadwal prameks.  Sumber dari chat Line dengan salah seorang temannamanya Hunn.


Minggu, 30 September 2018

A Place to Remember: Telaga Sarangan


A Place to Remember: Telaga Sarangan

Percaya pada impianmu, walaupun itu hanya pernah terjadi sekali dalam mimpi, dimanapun dan kapanpun.

144 jam yang lalu
         Tiba-tiba Bos Killer-ku mengajukan kuesioner tempat wisata yang ingin dikunjungi-kepada semua karyawannya.  Aku sudah bersiap menjatuhkan kepalaku ke meja sebelum kertas itu sampai tepat di depanku, "Diisi ya, secepatnya. Supaya bisa segera diputuskan kemana. Tapi ada ketentuan wilayahnya, ada di kuesioner kok," katanya dengan lembut. Sungguh, aku ingin meletakkan kepalaku sejenak setelah tertunda beberapa detik yang lalu, kalau saja Bu Bos tidak 'selembut' tadi.  Bahkan Talisa yang duduk di sampingku, hampir terjatuh dari kursi saking tidak bisa menahan tawa setelah melihat tindak-tanduk Bos.  Bagai efek domino, Irfan yang duduk di samping Talisa pun begitu, berlanjut ke Toni (kali ini dia menyibakkan jaketnya ke pundak, entah untuk apa), lanjut ke Surya (dia terlalu pendiam untuk ber-euforia, kulihat dia hanya tersenyum 5 jari-khasnya), lain lagi dengan Ruru yang duduk berseberangan dengan Talisa, memandangku dan Talisa sambil mengernyit, bak tersambar petir, begitu katanya. Lalu dia beristighfar. Selanjutnya ber-alhamdulillah ria. Kulihat muka kusutnya seketika menghilang. Iya, mukanya kusut. Sekusut baju Toni yang lupa disetrika.

120 jam yang lalu
        Seumur aku memegang pulpen, rasanya baru kali ini aku kesulitan menggerakkannya.  Kalau tidak karena bos yang kelewat aneh kemarin, aku mungkin tidak akan mengisi, dengan tidak mengurangi hormatku pada bos tentunya.  Sambil sibuk mencari ide-ide brilian untuk berwisata, aku teringat notes travelling-ku. Mungkin saatnya sudah tiba, begitu pikirku. "Hoi, kuesionernya dikumpulin besok jam 8 ya!" Irfan berseru. Setelah itu yang kudengar adalah ber-hah-huh.  Aku senang karena banyak yang belum selesai.  Iya, yang penting bukan aku seorang tentunya.

114 jam yang lalu
Di sinilah aku. Sambil membuka notes travelling-ku, aku membuka lembaran-lembaran yang memuat tempat-tempat yang pernah kukunjungi.
1.       2001-Telaga Sarangan
        "Ini adalah tempat wisata yang aku kunjungi di luar Jogja untuk pertama kali. Waktu itu usiaku masih 8 tahun.  Tidak banyak catatan tentang wisata ini di sini karena tentunya aku belum sempat mencatat langsung saat itu, hanya sedikit sisa ingatan dan tanpa foto sama sekali." Tiba-tiba aku ingat kalau aku dulu aku belum memiliki kamera sendiri, baik ponsel maupun kamera digital.  Aku jadi berandai-andai, untuk memiliki kamera yang kuidamkan dalam ponsel keluaran terbaru.  Kepalaku sudah dipenuhi bayangan hasil browser spesifikasi ponsel terbaru. Aku mengaduh. ' Sabar-sabarkan dirimu, lakukan satu-satu', begitu gumamku.  List tempat wisata dulu baru ponselnya.

2.       2004-Kopeng, Salatiga
        "Wisata yang kedua dan aku masih berusia 11 tahun. Tidak ada foto." Lagi-lagi tidak ada foto. Aku ingin kamera idamanku!  Browser sudah kuklik. ' Ups, sabar-sabar' , lagi-lagi aku bergumam. Kutunda lagi niatku.

3.       2011-Dunia Fantasi, Jakarta
        "Aku merasa ngeri dengan perjalanannya karena menggunakan bus besar.  Tetapi semua rasa ngeri itu tidak berubah setelah sampai wahana. Setelah menimbang dan memutuskan, akhirnya aku ikut naik histeria (untung sepatuku sudah kukencangkan talinya. Kalau tidak mungkin sekarang aku tidak bersepatu)." Hampir saja kelepasan tertawa dan membangunkan orang rumah. “Saat naik roller coaster rasanya seperti akan jatuh terjungkal ke bawah. Syukurlah tidak terjadi." Aku jadi ngeri sendiri mengingatnya. Kali ini ada beberapa foto yang sempat diambil oleh temanku.  Tapi tetap saja itu bukan kamera ponsel idamanku.

4.       2013-Masjid Agung Jawa Tengah
        "Masjid yang luar biasa luasnya.  Sayangnya aku tidak sempat menikmati 'payung teduh' di halaman depan masjid.  Aku hanya sempat naik menara Al- Husna (Al- Husna Tower)  yang tingginya 99 meter dan bisa mengamati Kota Semarang dari atas." Aku mengingat momen itu. Itu adalah pengalaman terbaik dari banyak tempat yang sudah kukunjungi.  Beberapa foto juga sempat aku ambil, dengan kameraku sendiri.  Mungkin foto ini bisa kujadikan refleksi kamera idamanku, begitu pikirku.

                                       
5.       2014-Air Terjun Wonolelo Magelang
        "Sangat menyenangkan bisa memercik air ke sembarang arah dan dengan sumber air melimpah! Sayangnya aku tidak bawa baju ganti, alhasil aku masuk angin di mobil." Ini perjalanan terburuk sepanjang masa, pikirku.  Kulihat lagi foto yang tersemat di bawah tulisan review-ku dulu.  Walaupun begitu ini tempat yang cantik. Aku mengeluh karena fotonya kurang jelas. Benar-benar harus punya kamera yang bagus ya, ternyata.

6.       2017-Pantai Klayar, Pacitan
        "Perjuangan selalu membuahkan hasil. Setelah capek jalan naik-turun bukit menuju pantai, aku langsung menerjang pasir putih itu.  Mulai berselfie dengan teman-teman.  Benar-benar pantai yang indah. Apalagi dengan topi ala turis berwarna putih. Tak kalah penting, Seruling Samudera.  Akhirnya aku bisa melihatnya (kupikir itu bentuknya seperti seruling, ternyata…)." Aku berpikir sejenak, lupa yang mana seruling samudera. Lalu mulai membuka galeri di hari itu. Satu detik, dua detik, 15 detik, sudah kutunggu. Tapi tidak ada yang muncul di layar. Aku beristighfar supaya sabar, harus menunggu untuk membuka galeri lama di ponsel.  Sampai aku sudah tidak antusias untuk mencarinya.  Lepas dari fokus Seruling Samudera, aku mulai menyadari bahwa kualitas fotoku semakin bagus, tapi sepertinya aku memiliki masalah baru dengan memori ponsel. Sudah penuh.  Aku membutuhkan ponsel berkamera kualitas bagus dan kapasitas memori yang lebih banyak.  Perlu digaris bawahi 'bukan kamera DSLR dan sejenisnya atau kamera digital' karena aku tidak suka kamera-kamera itu.


7.       2018-Puncak Kosakora, Gunung Kidul
       "Sampai di puncak Kosakora, kami bersiap mengabadikan momen sunrise dan pemandangan pantainya.  Indah sekali. Sampai kehilangan kata."

         Kuteliti lebih dekat, ternyata memang aku membutuhkan hasil jepretan yang lebih bagus lagi.  Semakin tinggi motivasiku untuk berburu ponsel baru. Aku harus membeli yang baru, aku sudah memutuskan. 
         Keputusan membeli ponsel baru sama bulatnya dengan keputusan memilih nomor satu.  Karena sekeras aku mengingat tempat itu, tidak ada ide sama sekali bagaimana bentuknya dulu saat aku kesana.  Meskipun aku bisa browsing, itu bukanlah gambar milikku. Jadi, sebaiknya kembali ke tempat itu daripada penasaran seumur hidup dan yang pasti, mengabadikan dengan ponsel yang super. Iya daripada penasaran kan?

102 jam  yang lalu
        Setelah aku dan teman-temanku mengumpulkan kuesioner karyawisata itu, kami seharusnya kembali bekerja tetapi tidak denganku. Sepertinya aku sudah terhipnotis dengan bayang-bayang spesifikasi ponsel keluaran terbaru.  Aku sudah membuka spesifikasi ponsel lamaku, si Kotak.  Iya namanya Kotak. Aku tidak bercanda. 
    Sesuai dengan keluhanku saat ini, resolusi untuk urusan ponsel di 2018 akhir, aku membutuhkan kamera dengan ponsel yang memiliki memori super dibanding ponsel sebelumnya.  Aku tertarik dengan ponsel berwarna biru agak keunguan dari Huawei, Huawei Nova 3i. Memori penyimpanannya besar! Kamera adalah tujuan selanjutnya. Oke, menurut spesifikasi ponsel, kameranya Quad AI Camera (kamera yang  bisa mendeteksi wajah dan pemandangan, yang dilakukan oleh kamera ber-Artificial Intelligence, sehingga mempengaruhi hasil pengambilan gambar). Itu pasti keren. Lebih dari ponsel lama.  Aku sangat tergiur.  Selain itu, Huawei Nova 3i juga memiliki premium design dan powerful performance. Ponsel impian!

Hari keberangkatan.
        Aku merasa perjalanan tadi sangat singkat, entah apa yang terjadi.  Seperti tidak naik bus, karena tiba-tiba saja aku sudah berdiri di dekat Telaga Sarangan.  Ini semakin aneh, karena teman-temanku terutama Ruru dan Talisa, serta Bu Bos menyeru ke arahku.  Bertepuk tangan.  Ini ada apa? Tetiba, dari arah belakang, ada tangan yang menutup mataku.  Aku langsung memegang tangan itu dan berusaha melepaskan diri, tapi tidak bisa.  Aneh sekali.  Aku berusaha teriak, tapi tidak ada suara yang keluar! Aku terus beristighfar.  Tiba-tiba orang itu melepas tangannya dari mataku dan membalikkan badanku, aku melihat sebuah kotak persegi panjang, dilapisi kertas kado berwarna biru laut dengan pita berwarna putih, err mirip kotak ponsel.  Lalu semua yang disana menyeru,”Buka Na, buka, buka …” suara mereka tidak berhenti.  Belum sempat aku kaget karena membuka kotaknya, tiba-tiba seseorang yang sedari tadi keberadaannya tidak kupedulikan membuat jantungku serasa mau lepas, “Maukah kamu menikah denganku?” aku belum sempat menjawab karena bingung sekaligus tidak tahu harus berbuat apa, tapi anehnya laki-laki tadi, yang menutup mataku, membukakan kotak dan isinya adalah … ponsel. Ponsel yang sangat kuinginkan sedari kemarin.  Tapi, aku harus memikirkan hal lain yang lebih penting.  Laki-laki ini siapa? Aku tidak bisa melihat wajahnya, dan kenapa dia bisa tiba-tiba melamarku? Aku masih sibuk dengan pikiranku, tiba-tiba…

  “Aduh, sakit.” Badanku terbanting ke lantai.  Mataku refleks membuka dan sekelilingku adalah kasur beserta isi kamar. Ternyata itu mimpi. 

Dua bulan kemudian.
        Setelah karyawisata itu, hidupku berjalan normal.  Aku bekerja dengan Talisa, Irfan, Toni, Surya, dan Ruru, seperti biasa. Bos Killer kembali menjadi killer setelah karyawisata, ternyata karyawisata adalah ‘sogokan’ agar kami mau bekerja lembur untuk 2 bulan ini. 
       Kehidupanku tidak ada yang aneh. Tetapi  aku benar-benar heran, karena merasa memimpikan hal yang indah sebelum berangkat ke Sarangan dan tidak bisa mengingatnya. Itu apa ya? Ngomong-omong, aku belum jadi membeli ponsel keluaran terbaru itu karena baru sibuk, lembur.  Akan aku usahakan lain waktu. Harus.

Satu bulan kemudian.
       Sabtu ini aku dipaksa ikut ke Telaga Sarangan oleh ayah ibuku.  Yeah. Sebenarnya aku senang. Kalau hanya untuk jadi sopir, tidak masalah. Yang paling menyebalkan adalah menjadi obat nyamuk, melihat beliau berdua bermesraan. Bukannya aku tidak suka, itu malah bagus. Tapi, aku kan jomblo. Iya aku jomblo. 
        Sesampainya di sana, aku mengikuti mereka sampai tepi Telaga Sarangan.  Seperti deja vu, aku merasa ada yang menutup mataku dari belakang.  Ya Allah, ini sama seperti mimpiku. Jantungku bahkan sudah sekeras ini, aku malu sekali kalau sampai ketahuan.
        Entah bagaimana ceritanya, takdirku jadi begini.  Kejutan dari Allah memang luar biasa.  Ini kejutan pertama, dilamar seseorang yang aku mencintainya dan juga sebaliknya.  Dan aku berharap di sini juga, dia akan memberiku hadiah ponsel itu.  Aku akan memenuhi galeri ponsel baru dengan foto kami berdua, di tempat ini, dan tempat-tempat indah lainnya.  Aku tidak salah untuk berharap seperti itu kan? J

.
.
.

Cerita di atas merupakan fiktif belaka, kecuali tempat-tempat yang pernah dikunjungi dan tentu saja Huawei Nova 3i, Quad AI Camera, smartphone termurah di kelasnya dengan storage 128 GB!
Jika ada kesamaan nama, latar, kejadian, dan lain-lain, hal tersebut karena kebetulan semata. 



Tulisan ini diikut sertakan dalam giveaway di blog nurulnoe.com

Rabu, 27 Juni 2018

Tulus


Tulus
Siang itu mendung menyelimuti kota Jogja.  Aku bersama temanku sedang berada di salah satu rumah warga Jogja untuk bersilaturahim dan melakukan tugas penelitian.  Kami masuk ke ruangan depan rumah tersebut setelah dipersilakan pemilik rumah.  Ruangan yang tidak begitu besar dengan tikar warna-warni. Kami dapat mengetahui keseharian nyonya rumah itu hanya dengan melihat sekarung bawang merah di ruang tamu mereka, sehari-harinya pasti bekerja untuk mengupas bawang merah tersebut.  Setelah duduk, kami mulai perkenalan dan mulai wawancara dengan pemilik rumah. 
Tiba di suatu topik, aku cukup terkejut setelah ibu tersebut mengatakan bahwa anak sulungnya pernah mengalami gangguan ginjal bertahun-tahun lalu.  Ibu tersebut juga cerita betapa sulitnya ketika saat itu belum ada BPJS karena saat beliau memeriksakan langsung ke RS X di Jogja, yang mana setelah di periksa oleh dokter RS tersebut, anaknya perlu dimondokkan dan diperiksa dengan rontgen di ginjal.  Ibunya mengaku betapa mahalnya biaya pengobatan saat itu.  Tiba-tiba mata beliau berkaca-kaca, “ Dulu mbak, anak saya dirawat oleh dr. A di RS tersebut. Saya sangat berterima kasih pada beliau sewaktu kami memeriksakan kontrol berulang kali dan rontgen ginjal yang harus disuntik itu (BNO-IVP), beberapa kali beliau menyampaikan ‘Sudah bu, ini separuhnya buat beli dhaharan saja’ atau ‘Bu mboten mawon’, saya sangat terharu mbak.” Ibu tersebut cerita bila beliau tidak mengeluarkan biaya untuk BNO-IVP karena dokter tersebut yang membantu. Aku dan temanku seketika diam.
Tetiba aku teringat saat stase anak di RS Y di Jogja, Agustus tahun lalu.  Seorang konsulen menceritakan sebuah kisah, saat aku selesai refleksi kasus. Beliau, dr. D menceritakan salah seorang teman sejawat beliau, orang yang baik. Ketika teman beliau ini meninggal, orang-orang datang melayat, jumlahnya sangat banyak.  Sampai dr. D bercerita kalau beliau merinding, terharu.  Beliau ingat betul  bahwa temannya ini memang sangat baik, dermawan, dan luar biasa.  Waktu itu, aku tidak tahu.  Seberapa besar kebaikan teman dr. D ini.  Yang aku tahu, teman beliau pastilah orang yang sangat baik, melalui cerita dr. D di akhir refleksi kasus, dengan mata yang berkaca-kaca.
Hampir satu tahun berlalu, akhirnya aku tahu. Mungkin tidak sepenuhnya tahu.  Kebaikan yang dibicarakan itu baru saja kudengar dari salah satu pasien dr.A, teman dari dr. D.  Rasanya ada sesuatu yang membuncah di dada. Rasa bangga, terharu, sedih, menjadi satu. Oke, berlebihan memang.  Tapi bisa dibayangkan betapa berterima kasihnya ibu responden ini pada dr. A, tanpa mengurangi rasa hormat, melihat ibu ini memiliki ekonomi yang mohon maaf memang pas-pas an. Terima kasih yang tulus. Aku melihatnya. Menurutku, terima kasih tulus itu hanya dari orang yang menerima kebaikan yang tulus juga, dan itu bukan berlebihan kan?
Last but not least, bukan berarti kebaikan hanya dinilai dari ekonomi. Bukan. Dari kisah itu, aku belajar untuk bisa mengerti keadaan orang lain, menolong sesuai dengan tempat dan keadaan mereka yang perlu ditolong. Dokter A menolong ibu tersebut dengan biaya.  Keadaan yang lain bisa saja berbeda. Tapi yang tidak kalah penting adalah belajar yang benar, kelak berguna bagi orang lain :’’)
Aku sedih waktu mendengar cerita ibu tersebut karena belum sempat bertemu beliau saat Koas. Pastilah beliau orang yang luar biasa. Terima kasih, Guru.
Pesan : untuk siapapun yang akan jadi spesialis, semangatlah.  Untuk siapapun yang akan jadi dokter di struktural, semangatlah. Untuk siapapun yang akan jadi apapun, semangatlah. Niatkan untuk Allah semata. Kukira itu yang disebut tulus.
Yogyakarta, 26 Juni 2018/ 12 Syawal 1439 H